IMUNISASI

February 2, 2009 at 1:25 pm 6 comments

Sebagian besar masyarakat telah memahami makna imunisasi dalam paradigma medis modern.  Imunisasi dilakukan dengan cara memasukkan antibodi buatan yang biasa disebut vaksin.  Tujuan dari vaksin ini adalah untuk membangun antibodi terhadap penyakit tertentu.

Vaksin sendiri berasal dari virus penyebab penyakit tertentu yang dilemahkan.  Sehingga fungsi vaksin hanya bekerja terhadap penyakit yang disebabkan oleh virus tertentu saja, tergantung jenis yang dilemahkan.  Sebagai contoh, vaksin polio hanya mampu untuk mencegah infeksi virus polio saja.  Begitu juga campak dan hepatitis serta yang lainnya.

Metode ini sebenarnya jika kita telaah lebih mendalam, maka akan memunculkan masalah yang cukup rumit.  Telah diketahui bahwa virus selalu bermutasi, sehingga dampak yang muncul terhadap tubuh kita akan selalu berkembang pula.

Kasus yang belum lama ini terjadi dan menghebohkan dunia adalah virus flu burung.  Hanya membutuhkan waktu yang relatif cukup singkat, virus tersebut telah bermutasi dan memunculkan varian yang sifatnya sudah jauh dari sifat virus avian flu yang asli.

Jika paradigma yang digunakan adalah selalu menjinakkan virus penyebab munculnya penyakit untuk mencegah terjangkitnya penyakit tersebut, maka dalam perkembangannya akan dibutuhkan sangat banyak vaksin yang harus disuntikkan ke dalam tubuh bayi.

Hal ini akan menjadikan tubuh kita rentan, dalam segi efektifitas membangun antibodi.  Masuknya antibodi yang berasal dari luar akan membuat sistem antibodi kita menjadi pasif.  Karena secara alamiah, seharusnya tubuh kita yang secara aktif mampu membangun antibodi untuk menangkal setiap jasad renik yang masuk ke dalam sistem tubuh, apapun jenisnya.

Paradigma nenek moyang mengenai antibodi sebenarnya sudah cukup lengkap, yang pada prinsipnya adalah mempersiapkan kemampuan tubuh membentuk antibodi semenjak usia dini.  Titik pentingnya telah jelas, yaitu memperkuat sistem antibodi yang ada di dalam tubuh.  Bukan memasukkan virus yang telah dilemahkan ke dalam tubuh kita.

Dengan treatment semenjak awal pertumbuhan, terbukti telah berhasil membuat individu tumbuh tanpa tergantung pada asupan vaksin.  Dan terbukti juga tidak sampai terkena penyakit-penyakit seperti yang sering menimpa anak-anak balita.


Penanganan

Treatment ini dimulai ketika sistem pencernaan bayi sudah mampu mencerna makanan selain ASI, kira-kira umur 3 bulan.  Pada periode 3 bulan secara intensif diberikan makanan yang membangun sistem antibodi hingga umur 6 bulan.  Pada umur 6 bulan, diberikan treatment khusus satu kali.  Pada umur 9 bulan kembali diberikan treatment khusus sebanyak 2 kali.  Penjelasan lebih rinci sebagai berikut:

Mulai umur 3 Bulan

Bahan
1.  Kroto (larva semut merah/rangrang/Oecophilla sp.) sebanyak 2 sendok makan
2.  Umbi Kolessom (Tanilum recemosum) -kualitas yang paling baik diakui berasal dari China – selebar ujung  ibu jari orang dewasa
3.  Daun Patikim (Hydrocotyle sibthorpioides) sebanyak 40 lembar
4.  Beras (diusahakan organik) sebanyak 1 sendok
5.  Bawang Putih (Allium sativum) secukupnya
6.  Garam dapur secukupnya

Keenam bahan tersebut di-tim (seperti cara memasak nasi tim).  Disuapkan kepada bayi 2 hari sekali hingga bayi berumur 6 bulan.  Jika teksturnya terlalu kasar hasil tim tersebut diblender ulang.

Umur 6 Bulan

Setelah bayi berumur 6 bulan, dicarikan udang air tawar/udang kali (Macrobrachium lanchesteri) 2 ekor yang berukuran sebesar garan sapu (ukuran harap diperhatikan-jangan udang kali yang ukurannya lebih kecil).  Udang tersebut diambil dagingnya saja. Kemudian direbus dengan air 2 gelas hingga air yang tersisa tinggal 1 gelas.  Air tersebut digunakan untuk membuat campuran tim seperti yang diaplikasikan sebelumnya.

Cara ini cukup diaplikasikan 1 kali saja.

Umur 9 Bulan

Setelah bayi berumur 9 bulan, dicarikan burung gemak sawah (Turnix suscitator).  Harap diperhatikan, bahwa burung gemak sawah berbeda  dengan burung puyuh yang selama ini diproduksi telurnya.  Burung gemak tersebut dibersihkan dari bulu dan kotoran, dicuci hingga bersih.  Direbus dengan air 4 gelas hingga tersisa 2 gelas.  Air rebusan burung gemak digunakan untuk membuat tim.

Cara ini dimplementasikan sebanyak 2 kali.

Catatan:

Protein udang dalam dosis yang banyak tidak bagus untuk manusia apalagi bayi, sehingga cukup 1 kali saja.

Indikator balita yang sudah menjalani terapi ini, tanda-tandanya apabila suatu saat terserang demam (panas tinggi) tidak akan terjadi step.  Sebab, seluruh syaraf yang ada sudah dalam kondisi siap dan solid.

Entry filed under: Imunisasi. Tags: .

SYARAF MATA

6 Comments Add your own

  • 1. kangmase  |  February 10, 2009 at 12:32 am

    Iki jare kaki-ninine, ya pa ora?

    Reply
    • 2. tradisisehat  |  February 10, 2009 at 10:34 am

      Hmmmm, semua yang kami tulis dalam blog ini memang peninggalan nenek moyang. Saya tidak meng-hak-i tulisan ini. Informasi ini di-share untuk menjadi informasi bagi semua rekan yang membutuhkan dan bersedia melaksanakan.

      Kalaupun ada bahasa ilmiah, itu untuk menyamakan persepsi tentang jenis tanaman/hewan yang dimaksud. Agar tidak salah penggunaan. Soalnya nenek moyang belum mengenal nama latin di zaman dahulu.

      Terima kasih

      Reply
  • 3. Nul  |  June 24, 2009 at 11:13 am

    Lik….
    Aku pelihara burung kenari puluhan….
    karena memang ternak….
    dan yang paling sering penyakit menyerang itu Snot..
    Atau bengkak di sekitar mata dan mata berair…
    lama2 bengkak membesar dan memerah….
    Katanya kena Virus..
    Dan itu paling sulit sembuhnya daripada mencret dll…
    Sering malah mati….
    Apa ada jamunya apa, caranya gimana n aku bisa daptkan dimana?…
    Saya tunggu kabar secepatnya..
    Karena udah ada yg kena lagi 3 ekor ini….

    Mohon infonya Thks…..

    Nul
    Sby

    Reply
    • 4. tradisisehat  |  June 25, 2009 at 5:54 pm

      Terima kasih mas Nul,

      Untuk informasi yang dibutuhkan, kami memiliki formula yang dimaksud. Akan tetapi, saat ini terpaksa belum bisa kami rilis. Tetapi jika panjenengan membutuhkan, dapat menghubungi teman kami melalui e-mail bambangayam@yahoo.co.id.

      Terima kasih

      Reply
  • 5. agus ch  |  August 13, 2009 at 10:29 am

    Nek inyong kpengin mbersiih paru2 carane kepriwe kie…masalaeh inyong tukang ngrokok berat

    Reply
    • 6. tradisisehat  |  September 1, 2009 at 8:04 pm

      Terima kasih mas Agus atas pertanyaannya. Sebagai jawaban atas pertanyaan anda, kami dalam waktu dekat akan merilis tulisan secara mendalam tentang paru-paru dan langkah – langkah untuk penyelesaian berbagai masalah terkait paru-paru.

      Mohon untuk bersabar ya..

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

February 2009
M T W T F S S
« Jan    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

Most Recent Posts


%d bloggers like this: